sebuah pengharapan di kloset

adakah di pagi ini yang masih hidup, memberi wejangan pada mimpi yang sempat patah atau di parahnya luka yang di jahit memakai mesin jahit dari goresan tinta hitam menipu,  adakah seorang manusia yang menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bercengkrama tentang hati yang di lupakan semaunya ataukah sebuah kisah yang hilang setengah di isi puing-puing ketamakan kata di simpang siurnya takdir, saya kira orang yang membicarakan pesanan politiklah yang pantas di kritik, yang pantas di bicarakan di warung-warung kopi sementara mereka berpesta pora di dalam sebuah ruangan kecil di hiasi kembang dan pembakaran uang sebagai simbol dan tanda bahwa mereka BERKUASA di negeri yang kita namakan tanah air tercinta ini, berkuasa dan memakan haram pentasbihan sementara hingga sampai hilang akal sehat, hilang semua posotifisme yang kita namakan wejangan, adakah yang kita namakan sebagai sebuah pembodohan memakai rangkaian kata murahan, memakai topeng senjakala dan mitos pribadi di ciptakan begitu saja, berita utama yg muncul kita selalu menyebutnya sebuah pengalihan isu media yang di komplot oleh perbuatan politik untuk kepentingan perorangan atau kelompok, kita pernah tertarik dengan bahasa kesopanan abad ini yang menjadikan kita tanda tany super abadi, hingga pada akhirnya kita bertanya : adakah yang masih kami percara

adakah yang masih kami percaya

itulah pertanyaan dari rakyat yang ingin menegur penguasa untuk menghentikan titah palsunya, sebuah topeng yang kita namakan penipuan, yang kita namakan hasrat jejak yang tak pernah terucap, bersembunyi di sela sela hari lalu muncul ketika mimpi -mimpi berkumandang, yah kita tahu kita ini melek, kita ini rakyat tidak buta dengan suasana, tidak buta dengan apa yang kita namakan kecurangan di sengaja, kita ini rakyat, kita ini mahasiswa selalu merasa gejala-gejala aneh selalu menerpa, kita cinta tanah air ini tapi tidak untuk menjual dan membisniskannya, ini tentang janji penguasa dan amanah dari rakyat, kami rakyat tidak terpesona dengan segala uang yang kau sertakan,

adakah seorang fahmie, saya sendiri, bercengkrama dengan orang-orang di warung kopi tentang ketidakadilan di negeri ini hingga ke pembicaraan Tuhan yang maha adil itu tentang semua urusan takdirNya, saya sendiri selalu tidak pernah menutup mata saya untuk membaca gejala, menikmati kopi di malam hingga pagi menjelang, kaum penindaspun tahu bahwa semua kecurangan itu memang bagian dari politik yang disengaja dan sangat terencana, dan bagaimana mungkin seorang manusia shalat tanpa mengharapkan surga dan jauh dari neraka, hindari harapan itu, sudahlah nikmati dan bersyukur saja tentang apa yang ada

sesekali kita perlu untuk merenung

di dalam kloset yang penuh bau kotoran kita sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s