memesan takdir

saya melihat di warung kopi ini aneka bentuk wajah dari yang terjelek, terganteng, sampe terseksi berperan sangat aktif merayu si dingin yang terbangun dari tidurnya di siang menantang,  disini saya masih meminum kopi pahit yang saya pesan 10 menit yang lalu, saya ingin sekali memesan takdir pada pelayan setengah baya itu, tapi rupanya saya masih belum bisa membuka mata untuk melihat seberapa lebarnya pesanan takdir itu mengangkang, saya selalu tidak pernah bermain-main dengan bahasa yang muncul di jidat saya bahkan ketika saya mulai berani menyentuh nadi tenggorokan yang kerontang, di sudut jalan di depan pas depan warung kopi saya berteriak “hai bangsattttt, masihkah kau berani memaki takdir , ku tantang kau dengan segenggam gaman anjing” , saya akhirnya melihat muka kosong itu memerah seperti buah tomat yang dihidangkan di atas meja para koruptor tapi merahnya hanya sedikit yang nampak, tidak seluruhnya, dan tentu saja tidak selamanya, saya berhasil berbuat lantang didepan muka kosong orang yang tak pernah ku kenal sebelumnya itu, jangankan kenal mengenal saja saya hanya sebatas melihat muka depannya yang dipenuhi serpihan bentuk wajah hancur, lalu muka kosong itu berkata :

biarkan saja aku gila 

tak ada urusan dengan kata gilamu itu, saya hanya ingin memesan takdir, saya hanya ingin memesan takdir, bukan memesan mimpi yang diharapkan pengemis, jika memang saya harus berjalan di onak hutan yg berduri , jika keputusan itu masih seperti obrolan para pembohong maka ijinkan saja saya merayap pada dinding kegilaanmu, menumpang hidungmu untuk menghisap udara di kotornya keadaan, saya ingin memesan takdir, dan mungkin para orang-orang ingin juga begitu, memesan takdir di sela hari yang koyak, omong kosong ucapan itu sekalipun tuhan berdusta , saya masih mengangkang di sebatas jalan dengan otak yang berucap BAGAIMANA MUNGKIN ADA PELANGI DI BAWAH VAGINAMU TEPAT DI SELANGKANGANMU, saya masih tak menyangka bahwa tuhan selalu menolak, pelayan itu menolak, dan orang pemilik warung kopi itu masih saja menolak tentang pilihan saya, saya cuma berharap saya bisa memesan takdir, saya di usir diam-diam melewati pintu belakang seperti maling yang ingin sekali mencuri bumi.

saya ingin memesan takdir

bangsaattttttttttt… saya hanya ingin memesan takdir malah kau beri saya pesanan menu hati, saya tak mau hati karena hati hanya untuk para pecundang yang selalu memuja dingin, hati itu hanya bisa dimakan dengan menggunakan rasa yang tak bisa saya terjemahkan kepada para jenazah, saya tak perlu hati, hati itu yang selalu kalian sampaikan pada bunga mawar, bunga kamboja atau nyanyian kematian yang didendangkan, tolonglah saya ingin memesan takdir, bukan atas kemauan para pelacur itu, saya hanya ingin memesan takdir dengan tidak memakan berbagai alasan, saya tak punya alasan kenapa saya masih bernafas, saya masih ingin memesan takdir di bawah cengkraman langit , para teknokrat itu tetap merayu saya , saya tak mau mengakuinya karena atas nama tuhan saya tak mau mengenal cinta apalagi memesan cinta, cinta itu bunga mawar yang onak durinya masih berakar di tiap batangnya, CINTA HANYA MILIK ORANG-ORANG KAYA, CINTA HANYA MILIK ORANG-ORANG PENCINTA KEBOHONGAN, saya dan sayanya saya masih bertalu pada awan mendung di samping kuburan pembohong,

dan saya masih ingin memesan takdir di warung kopi ini……..

warung kopi, 10 juli 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s