si insomnia di trotoar

tadi sore sekitar pukul 16.00 saya menuju ke puncak merapi, ya kira-kira sampe ke lerengnya saja, di jalan saya di guyur dengan hujan sehingga mau tidak mau saya harus berhenti sambil menunggu hujan reda, sekitar di KM 8 saya masih bergelut dengan dingin dan hujan yang selalu turun begitu lebat, nampak view merapi makin kabur karena tertutup kabut yang cukup tebal dengan mendung di sisi kiri dan kanannya, gludag gludug petir masih berbunyi begitu nyaring memenuhi langit yang begitu mendung dan gelap, begitu hujan cukup reda saya melanjutkan perjalanan ke atas lagi tepatnya ke tlogo putri karena jarak antara tlogo putri dan merapi tidak cukup jauh jauh amat untuk sekdar take gambar merapi, tapi lagi lagi saya di hadang hujan, yah mau gimana lagi, saya akhirnya berteduh lagi di rumah warga, numpang, nah pas menumpang itu saya tanya-tanya tentang erupsi merapi pertama hingga kedua, ternyata mereka merasakan begitu trauma yg cukup mendalam, sempat depresi karena mereka selalu di hantui ketakutan suara gemuruh merapi yang begitu ngeri, dengerin kisah dari mereka bener-bener bikin saya tergugah untuk membantu sesamanya, saya tergugah dan ingin membantu mereka apapun caranya, saya numpang di rumah warga cukup lama hingga pada akhirnya saya pulang dan tidak melanjutkan perjalanan saya kembali ke atas, saya turun akhirnya, buat saya mereka begitu ramah, begitu welcome menerima saya dengan senyuman yang sangat ramah, terima kasih bapak ibu atas tumpangannya, lain hari saya pasti main kesana lagi,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s